Sabtu, 13 April 2013

Keep on Moving

Berusahalah dengan sepenuh hatimu,,fulltilt,,sekuat dan sebisamu....karena ada Allah Tuhan Pencipta Langit dan Bumi.
Ingatlah Allah, karena hanya dengan mengingat Allah hatimu menjadi tentram.
Ingatlah Allah sebagai pelipur laramu,,
Percayalah,,selalu akan ada Allah yang Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Adil, serta Maha Penentu Segala-galanya.

Ketika kita sudah mau mencemplungkan diri,,menceburkan diri kita ke dalam dinginnya air dan kerasnya perputaran arus pilihan.
Maka, mulai dari saat pertama itulah kita harus siap dengan segala konsekuensi atas piliha-pilihan yang telah kita ambil.

Kita harus siap dan harus mau repot, sibuk, ribet, yang semuanya bisa kita rangkai menjadi sesuatu yang indah dan mudah, dengan pola pikir dan cara kita menyikapi dan menghadapinya. Bila kita mau.

Memang tidak mudah, apalagi sejak awal mula dimulainya sebuah perjalanan perjuangan. 
Banyak hal yang mesti diketahui dan dipelajari.
Di dalam setiap langkah, tahapan, hingga jenjang karir dalam bisnis, semua memiliki kesulitannya masing-masing.
Yang sejatinya adalah merupakan sebuah tantangan.

Namun, tetaplah kamu melangkah, meski langkahmu kadang pelan, kadang terseok, kadang pula memburu.
Tetaplah untuk percaya dan yakin pada dirimu sendiri.

Sebait kata mutiara yang berenergi positif dari seorang yang luar biasa, yang hingga kini masih terus terngiang-ngiang...
"Saya percaya, A...cepat atau lambat pasti akan jadi director. karena A...selalu datang ke kelas saya setiap jum'at sore di Bulungan."
Ya, orang luar biasa yang telah menjadi executive director atau lebih itu mengatakannya dengan penuh keyakinan dan kepercayaan. Tidak sedikit pun ada keraguan dalam diri orang hebat itu untuk mempercayai A...

Hingga kini, kata-kata itu tetap terpatri di dalam lubuk hati A. Sebagai sebersit inspirasi dan semangat yang tetap masih terasa dan masih dirasakan, bahkan digunakan sebagai pemantik daya juang yang terkadang masih pasang surut.



Bagaimana Proses Kemandirian itu dapat Terbentuk

Mengharapkan seorang bayi yang baru lahir dapat mandiri dengan berjalan sendiri adalah suatu hal yang mustahil.
Mandiri itu tidak bisa hadir sendiri begitu saja tanpa proses panjang dan berulang yang menyertainya. kemandirian adalah sebuah karakter, yang dalam proses pembentukannya perlu pengarahan, pengawasan dan bimbingan.

Mandiri adalah sebuah proses yang dapat dilalui seseorang melalui tahapan pengajaran. Proses menuju kemandirian mutlak dilalui dengan tahapan pengajaran dan pembelajaran.

Sejatinya kemandirian itu telah ada dalam diri setiap individu. Namun, pada pelaksanaannya mandiri itu pun tidak bisa langsung datang dengan sendirinya, terutama kemandirian dalam hal melalukan sesuatu atau dalam hal mendapatkan suatu hal yang baru diketahuinya.

Seseorang mampu mandiri bila ia telah paham dan diberi ilmu serta pengarahannya terlebih dahulu.

Ibaratnya,,, seperti seorang anak yang diharapkan oleh orangtuanya dapat mengikat tali sepatu sendiri. Ia perlu dicontohkan, dibimbing, untuk kemudian melakukannya sendiri dengan pantauan hingga ia benar-benar bisa sendiri. Tidak perlu banyak membantu karena hanya membuat anak malah tidak jadi mandiri, tapi dengan memberi contoh langkah demi langkah.

Sebagai orangtua/orang dewasa yang mengharapkan dan menginginkan anaknya dapat mandiri, maka orangtua haruslah memberi tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan sang anak dengan jelas dan rinci (fokus). Sang anak harus diberi contoh terlebih dahulu oleh orangtua. Anak melihat, memperhatikan dan mempelajari contoh yang diberikan orangtua. Lalu setelah itu, berilah anak kesempatan untuk melakukan prakteknya sendiri. Jika sudah seperti itu barulah ia bisa menduplikasi tindakan orangtuanya.

Hal itu perlu dilakukan berulang-ulang hingga anak paham dan mampu melakukannya sendiri. Dalam proses itu, orangtua haruslah terus memantau perkembangan anaknya.

Bahkan seorang balitapun dapat berenang dengan mandiri. Namun, tidak serta merta kita membiarkannya sendiri saja di kolam renang, tanpa jaminan keamanan dan kenyamanan.
Balita itu perlu diberitahu caranya, ia pun perlu didampingi dalam proses belajarnya, serta terus diberi kesempatan, agar ia mau mencoba dan berusaha sendiri setelah kita transfer ilmunya, dengan terus dipantau dan didampingi, hingga ia benar-benar bisa dilepas sendiri.

Jadi, mandiri itu tidaklah dapat tercipta dengan instant, ada proses menuju kesana, yang harus dilakukan secara berulang-ulang.

So, ketika kita mengharapkan anak kita, bawahan kita atau mungkin partner bisnis kita mandiri, dengan melontarkan kata-kata tekanan dan tuntutan,,,
Tengoklah kembali.....apakah kita sudah memberinya bekal?
sudahkah kita memberikannya keteladanan, dengan mengajarinya tahapan-tahapan dan langkah-langkah apa saja yang harus dilaluinya?
sudahkah kita memberitahukan/mentransfer ilmu padanya, secara jelas dan berulang-ulang (tidak setengah-setengah),  "Begini loh nak caranya..." 
sudahkah kita mencontohkannya dengan konkret (memberikan contoh melalui tindakan nyata), 
lalu sudahkah kita memantau dan mendampinginya, sehingga anak kita, bawahan kita, partner bisnis kita, dapat menduplikasi dan mengaplikasi setiap ajaran/ilmu yang ada/yg kita berikan dengan lebih mudah??